Tampilkan postingan dengan label Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2013

Kopi Ateng "Sigarar Utang"

KOPI ATENG OR KOPI SIGARAR UTANG

Memasuki Desa Parsorminan Kec. Pangaribuan, pemukiman leluhur saya, yang letaknya sekitar 20 kilometer dari Kota Tarutung , perjalanan saya disungguhi kebun-kebun kopi yang sedang berbuah. Cukup bikin tercengang melihat perubahan yang ada mengingat perjalanan (pertama dan) terakhir saya kemari sekitar 20 tahun yang lalu itu sangat berbeda. Waktu itu sepanjang jalan ini hanya ditumbuhi pohon-pohon besar dan jalan tanah yang rusak, tapi sekarang kendaraan saya bisa melenggang santai dan kebun-kebun kopi berserak. 


Pohon Kopi Ateng yang cuma setinggi orang dewasa 

Adalah si Kopi Ateng yang membuat kampung muasal saya ini bergeliat. Disebut Kopi Ateng karena pohon kopinya yang pendek-pendek tapi mampu berbuah lebat dan dipanen cepat. Petani lokal menggunakan istilah “Ateng” mungkin teringat dengan pelawak terkenal yang bertubuh pendek itu. Mungkin. 


Kopi Ateng yang sedang berbuah


Kopi ini mampu meningkatkan perekonomian penduduk lokal di daerah ini. Kopi Ateng sendiri adalah subvarietas kopi Arabica yang menghasilkan bijih kopi baik (ketimbang kopi Robusta), namun berbuah banyak layaknya kopi Robusta serta dipanen lebih cepat yaitu kurang lebih 2 tahun sejak dibibit dibandingkan jenis Arabica murni yang harus menunggu 3 - 4 tahun. Cepatnya masa panen tersebut menyebabkan para penduduk lokal menyebut kopi ini adalah Kopi Sigarar Utang (bahasa batak), yang artinya kopi untuk membayar utang. Petani tak perlu lagi meminjam uang untuk modal usaha ataupun sekedar menutupi kebutuhan sehari-hari kepada koperasi ataupun rentenir (pada masa menunggu panen) karena panen Kopi Ateng yang cepat ini mampu segera memenuhi kebutuhan para petani, bahkan dipakai untuk membayar utang (yang pernah ada). Itu sebabnya, banyak ladang-ladang kemiri, bawang, cabe dan lain-lain dialih fungsikan menjadi kebun-kebun Kopi Ateng.


Lahan yang disiapkan untuk menanam Kopi Ateng *tampak jajaran kebun cabe


Masa produktif Kopi Ateng sendiri mencapai 10 tahun, sedangkan untuk periode panen petani dapat memungutnya sekali dalam 2 minggu. Jadi petani bisa menjual hasil panennya 2X sebulan dengan harga Rp 15.000-Rp 20.000 per kg. Harga ini jauh lebih tinggi jika kopi sudah kering. Berdasarkan penghitungan kasar penduduk lokal, hasil obrologi kami, lahan 0,5 (setengah) Hektar saja dapat menghasilkan kopi 200 kg (16 kaleng kopi/bulan). Nah dengan begitu si petani bisa mendapatkan Rp 3 juta - 4 juta. Gak heran kan mereka berlomba untuk menanam si Kopi Ateng. 

Sedang menggiling bijih kopi


Kulitnya jatuh ke bawah, bijih kopi bersihnya masuk ke karung

Konon kabarnya, kopi ini diminati tidak hanya di daerah ini saja tapi juga di Pulau Jawa. Bahkan menurut cerita yang berkembang, warung kopi Starbucks yang terkenal seantero dunia itu, menggunakan kopi ini karena aroma harum dan citarasa enaknya. Sayang disayang, saya malah tidak sempat mencoba seduhan kopi panas si Ateng ini (????) 


Bijih kopi yang telah digiling


Budidaya Kopi Ateng ini menyebar di pelosok-pelosok Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darusalam, bahkan Kopi Ateng ini diyakini pertama kali ditemukan di daerah Aceh Tengah oleh seorang kakek.


Saya sendiri tertarik dengan Kopi Ateng ini karena ketidaktahuan saya mengenai jenis kopi ini, padahal ngaku-ngaku suka kopi ;p Selain itu, ketertarikan ini juga karena saya dan suami pada masa pensiun bercita-cita membuka warung kopi dan teh pagi di kampung asal mertua (Siborong-borong) *haiyaaaaah. Kebayang habis panen kopi dari kebun sendiri, diolah, terus kopi diseduh sendiri di warung sendiri pula. Wooow !!!!

Sabtu, 16 Maret 2013

KOPI ROBUSTA


Kopi Robusta atau yang disebut dengan Coffea Canephora pada walanya hanya dikenal sebagai semak atau tanaman liar yang mampu tumbuh hingga beberapa meter tingginya. Hingga akhirnya Kopi Robusta pertama kali di temukan di Kongo sekitar tahun 1895 oleh Emil Laurent. Namun terlepas dari itu ada data yang menyatakan jenis Kopi Robusta ini telah ditemukan lebih dahulu oleh dua orang pengembara Inggris bernama Richard Burton dan John Speake pada tehun 1862. Kopi Robusta (Coffea robusta Lindl, ex De Willd) termasuk dalam kelas Dicotyledonae dan bergenus Coffea dari famili Rubiaceae. Jenis kopi ini memiliki akar tunggang yang tumbuh tegak lurus sedalam hampir 45cm dengan warna kuning muda. Batang dan cabang-cabang kopi Robusta dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 2 – 5m dari permukaan tanah atau mungkin juga lebih, tergantung didaerah mana kopi tersebut tumbuh. Benih Robusta berbentuk oval dan biasanya lebih kecil daripada kopi arabika. Kopi Robusta (Coffea robusta Lindl, ex De Willd) tumbuh baik pada zona 20° LU – 20° Ls pada Elevasi 400 – 800m DPL dan dengan temperatur rata-rata tahunan 24 – 30° c. Pada umumnya ketinggian atau elevasi lokasi tumbuh tanaman kopi sangat berpengaruh terhadap besarnya biji kopi, jika berada di tempat yang lebih tinggi maka biji kopi akan menjadi lebih besar. Beberapa varietas yang termasuk kopi robusta antara lainQuillou, Uganda, dan Chanephora, ketiga varietas tersebut masing-masing memiliki karakter fisik dan sifat yang berbeda.
Tips Menyeduh Kopi Hitam
Ada berbagai Tips menyeduh kopi hitam yang dapat anda temui di dunia maya atau buku, kali ini saya juga akan ikut berpartisipasi membahas hal yang sama dan semoga cukup mencerahkan.

Apakah Anda seorang penikmat atau pecinta kopi sejati, khususnya untuk kopi hitam ? Jika ya, apakah yang ada dalam benak anda mengenai kopi hitam yang nikmat ?. Tentunya setiap orang memiliki selera berbeda-beda bahkan mungkin fanatik terhadap rasa kopi tertentu. Pecinta kopi sejati mungkin hampir mirip dengan para pecinta minuman anggur, secara abstrak mereka memandang citarasa sebagai sebuah elemen estetika yang merupakan hal pertama dan utama. Melalui proses panjang, berbagai metode racikan kopi hitam telah diciptakan oleh masyarakat tradisional dan modern guna mencapai cita rasa tertentu. Namun sejatinya seorang pecinta kopi sejati, apakah anda sudah menemukan komposisi yang sesuai dengan selera dan kepribadian anda yang begitu bersahaja nan kharismatik itu ?

Kunci kesuksesan dari sebuah pencapaian cita rasa kopi terletak pada komposisi material yang pas antara air, kopi dan mungkin bagi anda yang tidak cukup tampan namun tetap bersahaja biasanya menambahkannya dengan gula. Proporsi material-material tersebut sangatlah penting, namun jangan lupa bahwa tingkat kehalusan dan kekasaran agregat kopi juga sangat berpengaruh terhadap kekentalan dan cita rasa kopi yang anda seduh.

Sebagai seorang yang cerdas nan rupawan anda tidak sepantasnya hanya bergantung pada “kata nenek moyang”. Maksudnya adalah, anda haruslah lebih kreatif dan proaktif dalam menyikapi zaman dengan berbagai teknologi ini. Maka setidaknya anda telah memiliki beberapa peralatan seperti Grinder (alat penggiling kopi), dan Timbangan digital. Jangan lupa juga menyediakan biji kopinya, biji kopi toraja, kopi medan atau kopi aceh mungkin akan menjadi pilihan paling tepat, atau anda bisa juga membeli kopi yang sudah digiling di daerah anda. Namun agar eksplorasi citarasa dan eksperimen yang anda lakukan terasa lebih afdol, saya sarankan anda menyediakan biji kopi bukan bubuk kopi, karena biji kopi yang baru di roast dan digiling memiliki aroma dan rasa lebih nikmat dibandingkan dengan kopi yang sudah digiling beberapa lama. Setelah anda menyiapkan biji kopi dan peralatan-peralatan yang diperlukan mulailah dengan langkah pertama yaitu :

Timbang biji kopi dengan timbangan digital sebanyak yang ingin anda sajikan, jika anda hanya menyeduh kopi untuk anda sendiri (1 cangkir) maka ambillah biji kopi seberat 10gr saja.

Giling 10gr kopi tersebut menjadi bubuk menggunakan grinder sampai sehalus mungkin atau agak kasar. Halus / kasar bubuk kopi sangat berpengaruh pada aroma, rasa, body dan after taste-nya. Aroma kopi hitam dengan agregat agak kasar akan terasa lebih menyengat setelah beberapa saat dan rasa yang ditimbulkan kurang menonjol. Hal tersebut dikarenakan air lebih lama menyerap kedalam agregat kopi. Body pada kopi beragregat kasar tidak terlalu full dimulut tapi mempunyai after taste yang lebih dibandingkan dengan kopi bubuk halus. Sedangkan kopi hitam bubuk halus akan lebih menonjol pada rasa, namun aroma pada kopi bubuk halus lebih cepat menghilang.

Seduh kopi hitam dengan air panas. Temperatur air paling tepat untuk menyeduh Kopi hitam adalah sekitar 95-98º C. Berarti, setelah air mendidih (100º C), tunggu sekitar 1-2 menit sebelum airnya diseduh pada bubuk kopi.

Seduh dengan air panas secara bertahap, curahkan ¼ gelas air panas kedalam gelas (gunakan gelas kaca atau gelas keramik) dan biarkan tercampur dengan bubuk kopi, kemudian diamkan selama kira-kira 45 detik. Setelah 45 detik, tambahkan air panas hingga memenuhi volume gelas dan udahakan air panas tercurah agak lambat. Lalu aduk Kopi sebentar kemudian biarkan selama 3-4 menit sebelum diminum agar ekstrak kopi tercampur dengan air.

Jangan memasukkan kopi dan gula kedalam gelas lalu mengguyurnya dengan air panas, hal ini agar karakteristik kopi tidak rusak oleh gula. Jika ingin menambahkan gula, masukkan gula sesaat setelah anda mengaduk kopi kemudian aduk kembali setelah ditambah gula.

Singkirkan butiran bubuk kopi dan busa berminyak yang mengapung di permukaan kopi atau gunakan filter untuk menyaring.

Nikmati secangkir kopi selagi panas, terlalu lama membiarkan kopi yang telah diseduh menyebabkan kafein terlalu lama kontak dengan air panas. Bila kafein terlalu lama larut dalam air, kopi perlahan akan mengeluarkan aroma kafein agak menyengat.

Semoga dengan “tips-tips menyeduh kopi hitam” ini anda menemukan citarasa yang anda inginkan. Atau setidaknya tips kopi ini memberi anda 1 dari sejuta pengetahuan yang ingin anda tahu.